Sial, kata nya. Neira pasrah, entah harus menunggu berapa jam, hari, bahkan tahun untuk menunggu nya. Sudah melakukan penerbangan lumayan jauh yang sangat melelahkan dan harus diberi tugas untuk menunggu lagi bagaimana tidak geram.
”Sekala, dua tahun kepergian ku meninggalkan kota ini, apa tidak membuat mu kehilangan?”
“Tentu tidak. Ada atau tanpa nya kamu, tidak akan mengubah bagaimana bahagiaku.”
Neira terdiam sejenak, menatap laki laki yang menjadi alasannya untuk pulang. Ia memeluk dada bidang laki laki itu, “Kala, pelukan mu masih sama seperti dua tahun lalu. Aku bisa merasakan itu.”
“Berbeda, Nei. Situasi kita saat ini sudah bukan Sekala dan Neira si remaja 17 tahun lagi.”
“Bagi ku, kamu tetap sama.”
Sepulang dari bandara, Sekala membawa Neira kesuatu pemakaman yang berada di kawasan selatan Jakarta. Neira bingung, kenapa laki laki ini membawa nya ketempat semacam ini, “Mau mengunjungi siapa disini?”
Sekala pun tak menjawab sedikit pun pertanyaan Neira. Sampai tibalah mereka di depan satu nisan yang tampak terlihat cantik dan terawat. Neira membaca nama dalam batu nisan tersebut, kaki nya tak dapat menumpu tubuhnya yang lemas.
KEMALA RAHAJENG BINTI ADI RAHARJA
Iyaa.. Ibu Sekala yang juga ikut membantu merawat Neira saat ia masih tinggal sendirian di Jakarta karena Mama nya Neira sudah pindah dan menetap bersama Suami nya di Canggu salah satu kawasan Provinsi Bali.
Neira menatap Sekala dengan penuh tanda tanya, “Kenapa? Kenapa ketika Ibu meninggal tidak ada kabar sedikitpun ke Aku bahkan ke keluarga ku di Bali?”
“Kematian Ibu sengaja kami tutup rapat.”
“Termasuk Aku dan keluarga ku?”
“Siapapun itu.”
“Kala, kenapa?”
Sekala bungkam. Tangan nya menarik tangan Neira dan jalan menuju parkiran mobil pemakaman tersebut.
Di mobil, Neira melihat pemandangan gedung pencakar langit yang sudah lama tidak ia temui. Pandangannya beralih pada Sekala yang sedari tadi hening, tidak ada suara apapun dari dalam mobilnya apalagi dari mulut Sekala langsung, “Kita pulang kan? Kerumah mu.”
“Ke Apartmen dekat kampus ku.”
“Loh, rumah mu sudah pindah?”
“Belum.”
“Terus kenapa kamu ga izinin aku untuk menetap sementara disana? Sudah tidak ada Ibu ya?”
“Kan memang keadaan nya bukan seperti dulu lagi.”
“Iyaa, its okay.”
Sekala membawa koper besar milik Neira kedalam Apartemen nya. Entah untuk ia menetap berapa lama di Jakarta. Apartemen nya cukup luas untuk disinggahi seorang diri.
Neira keluar menikmati pemandangan lewat balkon yang terdapat di Apartemen tersebut. Ia melihat ada satu lingkungan cukup luas di daerah tersebut. Terdapat banyak orang yang berlalu lalang menggunakan almamater. Tiba tiba pikirannya terarah pada Sekala, ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.
“Di samping itu kampus mu?”
“Iya.”
“Kamu belum cerita, ambil jurusan apa disana?”
“Kedokteran.”
Neira yang sedang menuang air minum pun tumpah karena terkejut mendengar jawaban milik Sekala. Bagi Neira, manusia itu sangat tidak mungkin untuk mengambil jurusan tersebut.
“Kamu bohong kan? Ga mungkin manusia seperti kamu ambil itu.”
“Nei, harus berapa kali Aku bilang kalau Aku ini bukan Sekala Dewangga yang dulu.”
“Dan harus berapa kali aku bilang kam...”
Sekala memotong pembicaraan Neira, “Aku pulang dulu. Nanti aku suruh adik ku kesini untuk menemani kamu?”
“Kala, terimakasih.”
~~~
Hope u like it,
And see u di bagian Dua <3
~Tertanda, Res.

Komentar
Posting Komentar